Judul :
Secangkir Kopi untuk Relawan
Penulis :
Mohamad al-Azhar
Penerbit :Prou-Media
Cetakan : Desember 2010 (cetakan 1)
Tebal : 270 halaman
ISBN : 602-8941-04-2
Relawan
adalah sosok mulia yang berusaha membahagiakan orang yang dirundung masalah
terlebih musibah. Datang dengan segenggam keindahan, baik tenaga, pemikiran
hingga profesi. Buku Secangkir Kopi untuk Relawan ini memiliki tokoh Wahid
Nugroho seorang ketuam BEM FISIPOL UGM yang memiliki hobi naik gunung, menulis
dan aktif di suatu LSM, jiwa volunteer begitu kuat tergambar darinya.
Wahid
Nugroho yang tulen berdarah jawa, tapi enggan di sebut sebagai orang Jawa lebih
nyaman dipanggil dengan orang Jogja ini sama seperti mahasiswa akhir pada
umumnya, skripsi. Keaktifanya dalam memimpin aksi demonstrasi, mengirim artikel
ke media lokal-nasional, menyambung hidup keluarga dengan berjualan minyak
tidak menghalanginya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa. Skripisinya mengusung konflik yang melanda di Aceh.
Dosen
pembimbinya Dr.Ibrahim bagaikan sisi mata pisau, di sisi lain dia takjum dan
disatu mata lainya di melecehkan. Pertama merasa idenya hanya untuk mereka yang
berada di Pasca Sarjana. Kedua, sang dosen pembimbingnya meragukan akan data
yang diperolehnya jika hanya mengandalkan literature perpustakaan atau sekedar
hanya internet. Dan sebagai dosen yang terkenal, beliau menantangnya untuk
memperoleh data secara langsung di Serambi Mekah tersebut.
Sempat
dirundung kegaualaun, tapi itu terpangkas habis ketika panggilan jiwanya
berteriak meilihat keadaan yang memilukan tepat di tanggal 26 Desember 2004.
Tsunami melulu lantahkan daerah istimewa. Dengan banyak pertimbangan, izin dari
ibu dan murabbi (guru), maka Wahid Nugroho terbang meninggalkan kota pendidikan
selama 3 bulan. Banyak hal yang didapatkan dari kehidupannya selama 3 bulan.
Kehidupan, kisah cinta, tekanan batin tidak hanya itu dia banyak menumukan
keluarga baru.
Buku
ini tidak hanya membahas mengenai sosok volunteer, tapi membuka mata mengenai
kehidupan Aceh dan GAM. Bahasa penulis sangat mengalir sehingga pembaca tidak
dibuat menjelimet. Selain itu tidak hanya keseriuasan yang didapatkan dalam
permasalahan di novel tersebut, ada kisah lucu berupa perkenalannya dengan
banyak macam orang yang berbeda suku dan menjadi keluarganya, yaitu relawan
yang berlatarkan berbeda, dokter, mahasiswa, guru. Ada kisah mengharu ketika
menjalani proses taaruf. Ya di novel ini,
tidak luput dari kisah cinta. Cinta yang dibingkai dengan baik, tanpa
ingin ternoda oleh sembilu dosa.
Taaruf,
menjadi bagian yang membuat pembaca merasakan degupan kecemasan, dan
kekawatiran. Ketika Intan, sang akhwat menolak untuk melanjuti ke jenjang
serius karena perbedaan suku.
Novel
ini penuh kejutan dan berakhir happy
ending. Wahid mendapat izin dari kakak Intan yang merupakan ketua GAM,
berhasil menikah dengan bidadari dalam statusnya yang mahasiswa, dan
menyelesaikan sidang skripsinya dengan mendapat sambutan istimewa.
Akhirnya, membaca kisah
islami ini dapat membuka mata, hati, dan pemikiran mengenai voluunter yang sesungguhnya. Selamat
membaca, mari mendamaikan hati dalam deretan kata
(Annisa Sofia Wardah)
Serang
Kamis, 2 Januari 2014
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Thanks to my sob yang sedang dirundung masalah eh maksudnya sedang berjuang di UASnya! Bukunya bermanfaat guys! Selamat buku darimu menjadi postingan pertama :D
Segera menjumpai dengan gadis aceh ya sob! #Eh
Segera menjumpai dengan gadis aceh ya sob! #Eh


4 komentar:
Resensi hendaknya juga bisa menyampaikan apa kekurangan novel/buku menurut kacamata penulis resensi sebagai pembaca. ya kecuali kalo memang nggak ada kekurangan ;)
Oke mbak :)
makasih ya mbak nurul, adakah masukan ngasih kritikannya gimana gtu? Soalnya agaj grogi gtu hehe
Assalamu'alaikum.
Annisa, terima kasih ya sudah meresensi novel saya.
Salam kenal dari saya, Mohammad al Azhir.
Note : tunggu novel saya selanjutnya ya.
Terima kasih.
Waslkm.
Wa'alaikumussalam..
wah suatu kebahagian dan kebanggan bisa dikomentari langsung oleh sang penulsinya.
Salam kenal kak. Saya suka tulisan kakak. Itu kisah nyata ya ka?
Kalau ada novel selanjutnya, biar saya yang resensi kak :D
hhe
Posting Komentar