Secangkir Kopi untuk Relawan

on Rabu, 01 Januari 2014
Judul               : Secangkir Kopi untuk Relawan
Penulis             : Mohamad al-Azhar
Penerbit           :Prou-Media
Cetakan           : Desember 2010 (cetakan 1)
Tebal               : 270 halaman
ISBN               : 602-8941-04-2

Relawan adalah sosok mulia yang berusaha membahagiakan orang yang dirundung masalah terlebih musibah. Datang dengan segenggam keindahan, baik tenaga, pemikiran hingga profesi. Buku Secangkir Kopi untuk Relawan ini memiliki tokoh Wahid Nugroho seorang ketuam BEM FISIPOL UGM yang memiliki hobi naik gunung, menulis dan aktif di suatu LSM, jiwa volunteer  begitu kuat tergambar darinya.

Wahid Nugroho yang tulen berdarah jawa, tapi enggan di sebut sebagai orang Jawa lebih nyaman dipanggil dengan orang Jogja ini sama seperti mahasiswa akhir pada umumnya, skripsi. Keaktifanya dalam memimpin aksi demonstrasi, mengirim artikel ke media lokal-nasional, menyambung hidup keluarga dengan berjualan minyak tidak menghalanginya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa. Skripisinya mengusung konflik yang melanda di Aceh.

Dosen pembimbinya Dr.Ibrahim bagaikan sisi mata pisau, di sisi lain dia takjum dan disatu mata lainya di melecehkan. Pertama merasa idenya hanya untuk mereka yang berada di Pasca Sarjana. Kedua, sang dosen pembimbingnya meragukan akan data yang diperolehnya jika hanya mengandalkan literature perpustakaan atau sekedar hanya internet. Dan sebagai dosen yang terkenal, beliau menantangnya untuk memperoleh data secara langsung di Serambi Mekah tersebut.

Sempat dirundung kegaualaun, tapi itu terpangkas habis ketika panggilan jiwanya berteriak meilihat keadaan yang memilukan tepat di tanggal 26 Desember 2004. Tsunami melulu lantahkan daerah istimewa. Dengan banyak pertimbangan, izin dari ibu dan murabbi (guru), maka Wahid Nugroho terbang meninggalkan kota pendidikan selama 3 bulan. Banyak hal yang didapatkan dari kehidupannya selama 3 bulan. Kehidupan, kisah cinta, tekanan batin tidak hanya itu dia banyak menumukan keluarga baru.

Buku ini tidak hanya membahas mengenai sosok volunteer, tapi membuka mata mengenai kehidupan Aceh dan GAM. Bahasa penulis sangat mengalir sehingga pembaca tidak dibuat menjelimet. Selain itu tidak hanya keseriuasan yang didapatkan dalam permasalahan di novel tersebut, ada kisah lucu berupa perkenalannya dengan banyak macam orang yang berbeda suku dan menjadi keluarganya, yaitu relawan yang berlatarkan berbeda, dokter, mahasiswa, guru. Ada kisah mengharu ketika menjalani proses taaruf. Ya di novel ini,  tidak luput dari kisah cinta. Cinta yang dibingkai dengan baik, tanpa ingin ternoda oleh sembilu dosa.
Taaruf, menjadi bagian yang membuat pembaca merasakan degupan kecemasan, dan kekawatiran. Ketika Intan, sang akhwat menolak untuk melanjuti ke jenjang serius karena perbedaan suku.

Novel ini penuh kejutan dan berakhir happy ending. Wahid mendapat izin dari kakak Intan yang merupakan ketua GAM, berhasil menikah dengan bidadari dalam statusnya yang mahasiswa, dan menyelesaikan sidang skripsinya dengan mendapat sambutan istimewa.

Akhirnya, membaca kisah islami ini dapat membuka mata, hati, dan pemikiran mengenai voluunter yang sesungguhnya. Selamat membaca, mari mendamaikan hati dalam deretan kata
 (Annisa Sofia Wardah)

Serang

Kamis, 2 Januari 2014
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Thanks to my sob yang sedang dirundung masalah eh maksudnya sedang berjuang di UASnya! Bukunya bermanfaat guys! Selamat buku darimu menjadi postingan pertama :D
Segera menjumpai dengan gadis aceh ya sob! #Eh

4 komentar:

Nurul Noe mengatakan...

Resensi hendaknya juga bisa menyampaikan apa kekurangan novel/buku menurut kacamata penulis resensi sebagai pembaca. ya kecuali kalo memang nggak ada kekurangan ;)

Annisa Sofia Wardah mengatakan...

Oke mbak :)
makasih ya mbak nurul, adakah masukan ngasih kritikannya gimana gtu? Soalnya agaj grogi gtu hehe

Unknown mengatakan...

Assalamu'alaikum.
Annisa, terima kasih ya sudah meresensi novel saya.
Salam kenal dari saya, Mohammad al Azhir.
Note : tunggu novel saya selanjutnya ya.
Terima kasih.
Waslkm.

Annisa Sofia Wardah mengatakan...

Wa'alaikumussalam..
wah suatu kebahagian dan kebanggan bisa dikomentari langsung oleh sang penulsinya.

Salam kenal kak. Saya suka tulisan kakak. Itu kisah nyata ya ka?
Kalau ada novel selanjutnya, biar saya yang resensi kak :D
hhe

Posting Komentar